Gempa bumi yang semakin kerap berlaku di Malaysia membuat fikiran penulis meluru kepada kisah pengajaran gempa bumi di dalam Al Quran.

Allah menyentuh mengenai goncangan gempa terakhir di dalam Al Quran di dalam surah Surah Az-Zalzalah.

Nukilan ringkas ini sebagai pelajaran dan nasihat berhemah untuk diri serta untuk pembaca budiman fikirkan moga Allah menyempurnakan cahayaNya untuk kita dan diberinya akan rezeki faham dan ketajaman bashirah serta akal yang benar sebelum Zilzal akhir atau sebelum bumi sendiri yang menceritakan apa yang kita tulis dipermukaan dan ditanam diperutnya.

Gempa bumi dan kaitannya mengenai 3 sikap iaitu sombong pemimpin kaum, kurang akalnya  pengikut dan orang yang disesatkan syaitan justeru membuat mereka memandang baik apa yang buruk.

Kisah pertama gempa bumi dari peristiwa peringatan Nabi Syuaib kepada kaumnya di dalam surah Al ‘Ankabuut:

Dan kami utus kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.”

Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.

Dan (juga) kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam.

Kisah kedua gempa bumi yang menimpa kaum Nabi Shaleh di dalam surah Al A’raaf:

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya.”

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.”

Kisah ketiga mengenai kemarahan Nabi Musa akan kaumnya yang sesat akibat kurang akal sepeninggal baginda pergi bermunajat kepada Allah di Gunung Tursina.

Allah mengisahkan selepas kemarahan Musa a.s reda:  Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki . Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.”

Nabi Musa berdoa: “Dan tetapkanlah untuk Kami kebaikan dalam dunia ini dan juga di akhirat, sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu”.

Allah berfirman membalas: “AzabKu akan Aku timpakan kepada sesiapa yang Aku kehendaki, dan rahmatKu meliputi tiap-tiap sesuatu; maka Aku akan menentukannya bagi orang-orang yang bertaqwa, dan yang memberi zakat, serta orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.

“Iaitu orang-orang yang mengikut Rasulullah (Muhammad s.a.w) Nabi yang Ummi, yang mereka dapati tertulis (namanya dan sifat-sifatnya) di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Ia menyuruh mereka dengan perkara-perkara yang baik, dan melarang mereka daripada melakukan perkara-perkara yang keji; dan ia menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik, dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk; dan ia juga menghapuskan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya. – (Al-A’raaf – 155-157).

Peringatan dakwah lembut Rasulullah mengenai nasihat Rabb melalui gempa bumi:

Menurut sejarah pernah berlaku di zaman Rasulullah SAW maka baginda Nabi meletakkan tangannya diatas bumi dan mengatakan: “Tenanglah, kamu tidak boleh berguncang lagi setelah ini.”

Baginda kemudian menoleh kepada para sahabatnya lalu bersabda: “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah redha kepada kalian)!”

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab r.a pernah terjadi gempa bumi sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abid Dunya, kemudian Umar meletakkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi,”Ada apa denganmu?”

Kemudian beliau berkata kepada penduduk Madinah:

“Tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa lagi, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Mereka pun berbincang dan pada akhirnya mereka tahu bahawa di sungai Nil, Mesir berlaku kemusyrikan. Rakyatnya suka mempersembahkan gadis ke sungai untuk memanggil hujan. Maka Umar pun memerintahkan Amr bin Ash sebagai gabenor  Mesir ketika itu untuk menghentikan kemusyrikan disana. Setelah itu gempa tidak datang lagi!

Demikian pula nasihat dari seorang sahabat Nabi lainnya, yaitu Ka’ab bin Malik r.a.

“Tidaklah bumi bergoncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab-nya azza wajalla melihatnya.”

Firman Allah berbentuk ancaman dan peringatan mengenai bencana dunia:

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi” [Al-A’raaf : 97-99]

Kesimpulan: Hanya kerana satu gempa bumi Syaidina Umar Al Farouk sahaja yang menjawab enggan tinggal dengan kaumnya sebagai pemimpin tetapi kita yang mengaku mahu memimpin sambil lewa dan merasa selamat tidak faham pula akan bahasa gempa bahasa sakral tuhan Al Hadi Allah yang memberi ingatan teguran.

Dari kengerian dan pelajaran di atas penulis tutup dengan berita gembira selepas berita takut untuk melengkapkan tujuan Al Quran diturunkan melalui ayat di bawah untuk diri dan semua ikhwan.

Dan orang-orang yang melakukan kejahatan kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan beriman, (maka) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. – (Al-A’raaf 7:153)

Nota Ghoib kepada Putrajaya: Hadis riwayat At-Tirmidhi ada menyebut di mana Rasulullah bersabda: Adalah lebih baik seorang pemimpin itu berbuat salah dalam memaafkan dari berbuat salah dalam menghukum.

Firman Allah – Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang sentiasa menegakkan keadilan, lagi menjadi saksi (yang menerangkan kebenaran) kerana Allah, sekalipun terhadap diri kamu sendiri, atau ibu bapa dan kaum kerabat kamu.

Kalaulah orang (yang didakwa) itu kaya atau miskin (maka janganlah kamu terhalang daripada menjadi saksi yang memperkatakan kebenaran disebabkan kamu bertimbang rasa), kerana Allah lebih bertimbang rasa kepada keduanya.

leh itu, janganlah kamu turutkan hawa nafsu supaya kamu tidak menyeleweng dari keadilan. Dan jika kamu memutar-balikkan keterangan ataupun enggan (daripada menjadi saksi), maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.  – (An-Nisaa’ 4:135)

Firman Allah: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah berhakim kepada hukum Al-Quran yang telah diturunkan oleh Allah dan kepada hukum Rasulullah,” nescaya engkau melihat orang-orang munafik itu berpaling serta menghalang (manusia) dengan bersungguh-sungguh daripada menghampirimu.

Maka bagaimana halnya apabila mereka ditimpa sesuatu kemalangan disebabkan (bencana-kesalahan) yang telah dibuat oleh tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami tidak sekali-kali menghendaki melainkan kebaikan dan perdamaian (bagi kedua pihak yang berbalah)”.

Mereka itulah orang-orang yang diketahui oleh Allah akan apa yang ada dalam hati mereka, oleh itu berpalinglah engkau daripada mereka, dan nasihatilah mereka, serta katakanlah kepada mereka kata-kata yang boleh memberi kesan pada hati mereka. – (An-Nisaa’ 4:61-63)

HanyasaNya seluruh isi ilmu pengetahuan itu di sisi Allah dan di atas orang orang yang berilmu ada yang lebih tahu. Sedang perjanjian Allah kepada Nabi Ibrahim bapa agama Islam adalah ditegaskan Allah tidak termasuk kepada orang-orang yang zalim lagi sesat! – Ana Ghoib Al Hina, Pulau Besar Melaka

Susunan: Berita Mimpi – Ana Ghoib ... Mimpi dan penglihatan aneh… Bala, Altantuya…

KLIK BACA SURAT: ‘Jika dituduh penderhaka, biarlah’ – Tun Mahathir

KLIK BACA: Azmin fail saman tuntut mahkamah perintah paksa Khalid tangkap Jho Low

KLIK BACA: Pemuda Umno takut jemput Mahathir ke Nothing to Hide 0.3

KLIK BACAPenyokong ikut perangai buruk pemimpin, budaya kurang ajar – Rafidah Aziz

KLIK VIDEO: Najib ucapan berapi seru penyokong serang, tapi ….

KLIK BACA: 19 isu tunjukkan kita dijajah China selepas 60 tahun merdeka?

KLIK BACA: Dr Jomo: Pembayar cukai bakal tanggung kos projek ECRL dipinjam dari Exim Bank China 

KLIK BACA: Saya dapat pahala di akhirat walau tak dapat undi, kata Najib

Tolong Komen & Share